Budak Kehendak
2025.11.24

Pernahkah Anda berhenti sejenak dan benar-benar bertanya, seberapa bebaskah pilihan yang selama ini kita yakini kita miliki? Kita seringkali bangga dengan konsep kehendak bebas, merasa diri kita adalah nakhoda mutlak dari kapal kehidupan. Namun, jika diamati lebih dalam, sebagian besar keputusan kita—mulai dari memilih kopi di pagi hari hingga merencanakan karier besar—seolah-olah dipandu oleh serangkaian keinginan dan dorongan yang tak tertahankan. Bukankah kita hanya "menuruti" apa yang diinstruksikan oleh rasa lapar, ambisi, atau bahkan ketakutan kita? Jika Anda haus, Anda harus minum. Jika Anda ingin diakui, Anda harus berusaha. Dalam konteks ini, kehendak kita bukanlah tuan, melainkan semacam budak yang harus patuh pada sinyal-sinyal internal dan tuntutan eksternal.

Inti dari pertanyaan ini terletak pada pemahaman kita tentang diri. Apakah keinginan itu muncul dari ruang hampa kesadaran murni, ataukah ia adalah produk akhir yang kompleks dari genetika, pengalaman masa lalu, dan lingkungan sosial? Para filsuf dan ilmuwan sering berargumen bahwa apa yang kita anggap sebagai pilihan bebas hanyalah sebuah reaksi yang paling mungkin terjadi berdasarkan totalitas kondisi kita. Misalnya, Anda memilih pekerjaan yang stabil bukan karena Anda "bebas" dari segala keterbatasan, tetapi karena kehendak Anda terikat pada kebutuhan akan rasa aman finansial, tuntutan keluarga, atau tekanan sosial. Pikiran kita mungkin menawarkan ilusi kendali, tetapi tindakan kita tampak lebih seperti serangkaian eksekusi terhadap perintah kehendak yang mendesak, membuat kita terus bergerak dalam pola yang sudah terbentuk.

Lalu, di mana letak otonomi kita yang sesungguhnya? Jika kita menerima bahwa kita terus-menerus didorong oleh kehendak, lantas apakah hidup ini hanyalah sebuah drama yang naskahnya sudah ditulis oleh dorongan-dorongan biologis dan psikologis? Atau, mungkinkah kebebasan sejati justru terletak pada kesadaran akan perbudakan itu sendiri? Dengan mengenali dan memahami kehendak mana yang paling sering mendikte, kita mungkin dapat menciptakan jarak antara dorongan dan respons. Alih-alih langsung bertindak, kita bisa memilih untuk tidak menuruti kehendak yang merugikan. Jadi, apakah kita benar-benar budak kehendak? Mungkin iya. Tetapi, kesadaran bahwa kita adalah budak—dan berusaha memahami borgolnya—adalah langkah pertama menuju pembebasan yang sejati.